10 Mei 2017

TIPS MEMILIH BENGKEL YANG KERJANYA BAGUS, PROFESIONAL DAN BERTANGGUNG JAWAB TERUTAMA BENGKEL TV (ELEKTRONIK)

Seringkali terjadi konsumen yang mengeluh bahwa barangnya malah mengalami kerusakan lebih parah, komponen banyak yang tertukar atau hilang, ongkos servis terlalu tinggi, lama selesainya dan kudu bolak-balik ke bengkel tetapi hanya janji-janji saja yang didapatkan tanpa solusi atau keterangan yang memuaskan. Karena akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan bengkel-bengkel baru yang bermodal android, komunitas, google dan internet. Padahal bakat (talenta), pengalaman, ketelitian, bagaimana bekerja dengan profesional dan bertanggung jawab TIDAK BISA ditemukan di google/internet secara instan bahkan di grup-grup media sosial yang super elit dan mbayar sekalipun.

Berikut ini beberapa tips dan ciri guna menilai bengkel yang kerjanya bagus, profesional dan bertanggung jawab.

  1. Besarnya Tarip Jasa Berdasarkan Tingkat Kesulitan dan Jenis Pekerjaan

    Bengkel yang memakai kebijakan seperti ini sangat menghindari harga borongan. Sebagian besar konsumen yang datang akan bertanya perihal besarnya jasa servis dan total biaya bila unit diperbaiki. Tidak sedikit bengkel yang langsung saja menentukan harga borong untuk jenis kerusakan yang dikeluhkan oleh konsumen secara pasti, padahal segala kemungkinan bisa terjadi, bisa lebih tinggi atau rendah. Bengkel dengan borong tanpa pengecekan justru kelihatan sekali sombongnya dan menyepelekan pekerjaan terlebih pekerjaan kecil. Tarip jasa yang baik adalah yang ditentukan oleh jenis barang dan jenis tingkat kesulitan pengerjaan, misalnya ringan, sedang atau berat/sulit. Tidak bisa di hantam sama rata, karena “keringat”-nya juga berbeda.

  2. Menyediakan Komponen untuk Keperluan Servis Sendiri atau Melayani Penjualan Komponen Juga

    Sebagian besar konsumen menginginkan barangnya secepat mungkin selesai diperbaiki. Bila bengkel sudah siap dengan komponen pengganti, maka jelas sekali bahwa barang lebih cepat selesai bila komponen tersedia, tidak perlu nunggu belanja dulu. Beberapa kasus mungkin harus tertunda karena harus menunggu komponen pengganti, tetapi setidak-tidaknya kasus ini tidak sering terjadi karena tidak tersedianya komponen. Seharusnya bengkel/teknisi akan menyarankan/usul kepada konsumen untuk membatalkan servis bila komponen terlalu sulit didapatkan atau terlalu lama menunggu.

  3. Meja Kerja Rapi, Bersih dan Cara Menggunakan Alat yang Sesuai dengan Peruntukannya atau yang Dibutuhkan Saja

    Dengan meja kerja yang rapi dan hanya beberapa alat saja yang berada di atas meja menandakan bahwa bengkel tersebut disiplin dan teratur dalam bekerja, bukan teratur waktu, tetapi lebih teratur dalam mengerjakan sesuatu dan menggunakan alat yang tepat sesuai penggunaannya. Pada umumnya bengkel dengan keteraturan tinggi seperti ini, memiliki tempat khusus peralatan dan selalu merapikan alat kembali sebelum mengerjakan pekerjaan lainnya.

  4. Tidak Menentukan Kapan Barang Selesai dan Bisa Diambil

    Apa sih yang paling menjengkelkan dari sisi konsumen?... jawabannya adalah konsumen paling ogah bolak-balik ke bengkel sedangkan barang lagi-lagi belum kelar dan hanya janji-janji yang didapatkan. Padahal konsumen itu hanya sederhana permintaannya, yakni kepastian, bila barang emang sudah tidak bisa diservis, ya udah tidak perlu diservis. Konsumen tidak butuh janji-janji wakil rakyat yang janji begini dan begitu sehingga konsumen bolak-balik ke bengkel. Bengkel yang tidak berani berjanji kapan barang selesai dan kapan bisa diambil adalah bengkel yang paham sekali dengan medan yang dihadapi, karena tidak semua kerusakan itu sama waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaannya, kadang ada yang cuma beberapa menit, kadang ada yang hingga beberapa hari. Bengkel yang profesional akan menentukan waktu maksimalnya, bukan berjanji kapan barang selesai dan bisa diambil. Biasanya bengkel akan menghubungi, memberitahu atau mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada konsumen perihal perbaikan barangnya, misalnya dengan mengabari bahwa barang sudah selesai diservis ataukah dibatalkan karena sudah tidak efektif lagi bila dilanjutkan. Jadi konsumen akan lebih pasti.

  5. Lengkapnya Alat-alat Penunjang Perbaikan yang Disesuaikan dengan Kebutuhan

    Semakin lengkapnya alat sebuah bengkel, bukan berarti bengkel tersebut semakin profesional, justru malah kebalikannya. Semakin banyak alat, maka bengkel tersebut “kurang kreatif” sehingga sedikit-sedikit mengandalkan alat. Bengkel yang profesional, akan mengandalkan kreatifitasnya sendiri, misalnya dengan menggunakan alat hasil buatan sendiri dan menggunakan alat yang memang sangat dibutuhkan dan diluar kemampuan bengkel tersebut (memang benar-benar butuh). Kelengkapan alat cenderung terdiri dari alat-alat yang sering dipakai dan berkualitas tinggi. Sedangkan alat yang jarang dipakai pada umumnya tidak punya atau punya tetapi dengan kualitas rendah (murah).

  6. Tidak Memajang/menaruh Barang Servisan yang Banyak di Luar Bengkel dan di dalam Bengkel Masih Longgar (Tidak Penuh)

    Bengkel yang menaruh barang yang banyak di depan bengkel pada dasarnya “hanyalah” sarana iklan saja, agar orang yang lewat itu tahu bahwa ada bengkel di sana. Pada sisi lain, bisa dilihat bahwa bengkel tersebut malah sangat tidak profesional, lihat apakah ada barang yang sengaja ditaruh diluar pada sebuah service center? Tentu tidak. Biasanya bengkel yang sengaja iklan dengan cara ini pada dasarnya sangat tidak profesional dalam pengerjaan maupun dalam tanggung jawab.

  7. Dilengkapi dengan Buku atau Software Komputer untuk Registrasi Keluar-masuknya Barang

    Salah satu jenis pelayanan yang baik adalah lengkapnya dokumentasi dan rekam medis kerusakan barang. Dengan adanya buku catatan registrasi itu menandakan bahwa bengkel tersebut sangat bertanggung jawab, melindungi aset dan berusaha menjaga “titipan” konsumen dengan baik.

  8. Mengerjakan dengan Waktu yang Telah Ditargetkan

    Tidak semua barang bisa diperbaiki dalam waktu singkat, ada yang mudah, ada yang sulit, juga ada kendala spare-part dan lain-lain. Bengkel yang profesional akan membatasi waktu pengerjaan sebuah barang dalam beberapa waktu, misalnya bila dalam 2 jam belum kelar, maka ganti ke garapan yang lainnya. Hal ini membuktikan bahwa bengkel tersebut memaksimalkan berdasarkan kemampuan dan bekerja seefektif mungkin.

  9. Menutup Kembali Seperti Semula untuk Unit/barang yang Gagal Servis atau Ditunda Perbaikannya

    Tidak semua garapan itu langsung jadi dalam waktu yang sudah ditentukan sehingga barang harus dipending dulu, lalu mengerjakan garapan yang lainnya. Bila barang yang tertunda dalam posisi terbuka, tentunya akan lebih rentan roboh atau tersenggol atau bautnya saling tertukar dengan yang lain atau bahkan baut hilang.

  10. Tidak Banyak Unit yang dalam Kondisi Tutup Casing Terbuka di Dalam Bengkel

    Seperti pada poin 9 di atas, bengkel yang terdapat banyak unit dalam kondisi terbuka di dalam bengkel mengindikasikan bahwa bengkel tersebut menyepelekan hal kecil, kadang banyak bengkel yang harus mengganti rugi karena barang milik pelanggan “disenggol” kucing. Selain itu, banyaknya barang yang dalam kondisi terbuka bukan berarti bengkel tersebut tingkat keberhasilan servisnya tinggi, justru kebalikannya, sangat banyak unit yang gagal servis, karena komponen yang sudah terlepas banyak yang hilang, sehingga memaksa bengkel untuk menyarankan ganti mesin.

  11. Menjaga Jumlah dan Penempatan Baut agar Tidak Tercecer dan Tertukar

    Bengkel yang bagus bisa dilihat dari “baut”, konsumen sebaiknya mengecek sendiri bentuk fisik dan jumlah baut sebelum unit diperbaiki dan setelah diperbaiki. Bengkel yang ceroboh dan asal-asalan akan lebih sering “korupsi” baut dan memasang baut yang tidak pada tempatnya, bahkan baut barang/unit lain dipasang di unit Anda (kecuali pas unit datang emang kurang atau udah amburadul bautnya oleh bengkel lain)

  12. Jumlah Garapannya Terkesan Sepi

    Bengkel profesional sangat menjaga efektifitas dan memaksimalkan dalam bekerja. Misalnya kemampuannya hanya 10 unit per-hari, maka bila ada garapan lebih dari itu akan lebih sering ditolak. Tidak banyak barang yang menumpuk dalam kondisi belum jadi, tetapi banyak barang yang menumpuk dalam kondisi sudah selesai diperbaiki, jadi bengkel terkesan sepi karena tingkat keberhasilan servisnya tinggi.

  13. Tidak Menerima atau Menghindari Uang Muka (Titipan)

    Kadang ada konsumen yang menawarkan untuk memberikan uang muka pengerjaan perbaikan. Bagi bengkel yang sudah berpengalaman mengatakan bahwa konsumen yang menitipkan sejumlah uang akan selalu mengejar-ngejar sehingga mengganggu pekerjaan, sehingga bengkel yang berpengalaman akan menolak untuk menerima uang muka pengerjaan perbaikan. Ketika memulai bisnis, seorang pebisnis profesional akan berani menanggung segala resiko bisnis yang mungkin saja timbul. Pada umumnya uang muka diterima bila pekerjaan berjenis pesanan, bukan perbaikan.

  14. Menyerah atau Sudah Tidak Sanggup bila sudah diluar kemampuan atau karena keterbatasan kesulitan dalam pengadaan komponen

    Bengkel yang profesional tahu akan kemampuan dirinya sehingga lebih memilih menyerah dan mengerjakan garapan yang lain daripada harus membuang waktu dan tenaga dengan besar tanpa kejelasan keuntungan yang didapatkan. Lagi-lagi tentang efektifitas dan memaksimalkan segala sumber daya yang dimiliki.

  15. Tidak Segan untuk Menjelaskan Perihal Kualitas Komponen yang Dipakai, Darimana Sumber Komponen Didapatkan dan Kondisi Barang yang Diperbaiki

    Bila ada konsumen yang bertanya tentang kualitas komponen yang dipakai dan kondisi barang, maka bengkel profesional akan menjelaskannya dengan gamblang. Misalnya komponen kualitas KW atau orisinil atau kanibalan dan menjelaskan apa saja kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga akan menjelaskan kondisi barang sebelum dan sesudah diservis.

Sekedar masukan bagi para konsumen yang akan menserviskan barang, perlu diketahui bahwa saat ini banyak sekali bengkel baru yang abal-abal, yang sekedar pasang papan nama tanpa ada dukungan kemampuan sebagai teknisi, yang diandalkan hanya grup-grup di media sosial dan internet/google yang serba instan tanpa tahu teori elektronika atau sedikit sekali memahami teori elektronika.

Tidak sedikit bengkel yang lebih profesional yang risih terhadap ulah dari bengkel jadi-jadian ini, terlebih mendapatkan operan dari bengkel jenis ini, barang sebagian besar menjadi lebih parah dan banyak komponen yang hilang.

Biaya servis pada bengkel yang lebih profesional pada umumnya lebih murah, karena komponen sebagian besar sudah tersedia dan targetnya adalah memperbaiki modul/unit sehingga bisa menekan biaya servis. Tidak sedikit-sedikit mengganti modul/mesin. Jadi, menserviskan barang di bengkel profesional dan berpengalaman justru JAUH LEBIH MURAH dan lebih bergaransi.

Semoga Bermanfaat

PENULIS


Kembali ke menu sebelumnya