11 Februari 2010

BEBERAPA PENYEBAB KERUSAKAN PADA PERANGKAT TV

Dengan mengetahui penyebab kerusakan TV, sangat membantu dalam proses servis disamping ‘cerita’ dari yang punya. Setelah sekian waktu masih menjalani profesi sebagai servis elektronik, alhamdulillah dapat terkumpul beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik terlebih pada TV berdasarkan pengalaman Penulis.
Walaupun sudah mengetahui penyebab kerusakan, seorang bengkel tidak serta merta dapat memfonis komponen mana yang rusak tanpa diterawang, dibuka dan diperiksa terlebih dahulu. Dari segi pelanggan, tidak jarang juga para pelanggan mempunyai ilmu penerawangan sendiri, mungkin cuman ‘itunya’ yang rusak.
Berikut ini beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik:
  1. Cicak
    Hewan ini mempunyai rating yang cukup menggiurkan, tidak bisa diremehkan begitu saja. Hampir semua bengkel pernah mengalaminya. Secara alami, seekor cicak akan mencari tempat yang ‘hangat’ untuk bertelur. Menurut pengalaman beberapa pengguna/pemilik, kerusakan yang disebabkan karena ketika pemilik/pengguna mematikan TV cukup dengan remot dan ditinggal begitu saja. Meski TV sudah mati yang sebenarnya bukan mati akan tetapi dalam keadaan standby yang notabene smps/ac-matic masih bekerja. Jadi tidak heran jika blok SMPS/ac-matic menjadi sasaran empuk bagi cicak ini, “hangat-hangat mematikan”, kata si cicak.

  2. Kucing
    Hewan teritorial ini senang sekali menandai daerahnya dengan pipis sana pipis sini. Lihat aja selebor sepeda motor atau mobil, dibaui sebentar trus crit. Begitu juga dengan TV. Mengapa kucing senang sekali pipis di TV???
    Setelah melalui tahap-tahap penelitian yang sedikit guyon, akhirnya dapat terbongkar rahasia si kucing (dengan guyon juga), ternyata ketika TV yang ‘selalu’ dipipisi kucing pernah mengalami kerusakan, kemudian oleh pemiliknya dibawa ke bengkel. Nhaaa di bengkel inilah TV tersebut dipipisi oleh ‘kucing lain’, setelah TV selesai, sang bengkel tidak membersihkan (mungkin gak tahu kalo pernah dipipisi kucing di tempat kerjanya) lalu diambil pemiliknya dan dibawa pulang. Karena kucing yang berada dirumah pemilik ‘mencium’ bau mencurigakan, langsung saja mak critt disitu juga. Kemudian rusak dan dibawa ke bengkel lagi, lalu ketika berada di bengkel TV tersebut dicrit oleh kucing lain dan seterusnya.

  3. Kualitas Komponen yang Buruk
    Kalau penyebab yang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Karena meningkatnya persaingan secara otomatis produsen akan sedikit meringkas biaya produksi, salah satunya dengan meringkas kualitas komponen.

  4. Umur
    Pada dasarnya, sebuah pabrik dalam mendesain produknya selalu mempertimbangkan umur efektif dari produknya. Misalnya TV, katakan saja sebuah produsen mendesain untuk berumur efektif 5 tahun, secara otomatis, bentuk desain dan semua komponen yang dipakai juga berumur sekitar itu juga. Jadi jika ada produk yang sudah berumur melebihi targetnya anggap saja ‘keuntungan sampingan’. Jadi tidak heran jika menyervis TV jadul selesai servis bagian itu, beberapa waktu kemudian sudah pindah lagi yang ini.

  5. Petir
    Tidak terduga dan tidak tersangka, tapi satu penyebab ini sering sekali menimpa TV kesayangan. Dari jenis kerusakan minimal hingga yang parah. Kerusakan minimal jika petir menyambar bagian jala-jala PLN, sedangkan kerusakan parah jika menyambar antena dan secara kebetulan dalam perangkat TV tidak dilengkapi dengan anti petir untuk meminimalisasi kerusakan. Secara alami, elektron akan mengalir dari yang terujung (terdekat dengan bumi) jadi kerusakan terberat berada pada player/DVD yang terpasang pada TV, dan jalur AV pada TV juga mengalami kerusakan berat.

  6. Tegangan
    Seperti halnya petir, tegangan yang melebihi tegangan kerja, tegangan yang tidak stabil, tegangan kejut juga dapat mengakibatkan kerusakan pada TV. Jika ada pengaman untuk tegangan lebih, paling hanya komponen pelindung tersebut dan sekring yang rusak.

  7. Bengkel Sembrono
    Di awal sudah disinggung bahwa umur TV ‘sebenarnya’ sudah ditargetkan oleh produsennya. Ketika belum mencapai umurnya sudah mengalami kerusakan, kemudian oleh bengkel sembrono diutak-atik akhirnya malah tambah parah kerusakannya. Penggantian komponen alternatif yang tidak ‘selevel’ juga memperpendek umur dari TV.

  8. Ular
    Ya… memang ular. Suatu ketika membongkar TV, ternyata ada ular yang telah menjadi bangkai dengan posisi meringkuk tepat di bawah rangkaian smps. Menurut otopsi, penyebab kematiannya karena kesetrum tegangan B+ 300V. Mengapa ada ular sampai ke daerah tersebut? Penyidik tidak sempat menginterogasi ular tersebut karena bangkainya sudah keburu dibuang oleh bengkelnya.

  9. Sebab lain
    Kalau sebab yang satu ini, bagaimana cara mengulasnya??? Namanya juga sebab lain.

Pengalaman Lain


Penulis yakin ada salah satu Pembaca yang pernah mengalaminya. Pengalaman ini cukup untuk menjadi pelajaran dalam meningkatkan kewaspadaan bengkel terhadap komponen yang ‘katanya’ palsu atau gak bisa dipasang.
Pengalaman-pengalaman berikut ini diambil dari pengalam pribadi Penulis dan teman-teman penulis. Pengalaman-pengalaman berikut ini berujung pada satu kesimpulan yang dibenarkan oleh para pelaku dengan satu kesimpulan.
  • Suatu ketika memperbaiki perangkat televisi, menurut penerawangan bengkel kerusakan diperkirakan hanya solderan yang retak. Kadang TV bisa hidup normal, kadang standby, kadang warna hilang. Setelah dilakukan solder ulang pada beberapa bagian tidak luput pula kaki-kaki IC chroma/jungle, TV malah mati standby.

  • Pada pelaku yang lain, setelah 2 hari bergelut, akhirnya IC program dinyatakan rusak dengan konsletnya kaki reset dengan ground, dengan dana terbatas akhirnya pelaku membeli IC pengganti ke service center, dipasangnya IC tersebut, ketika dicoba tidak ada reaksi apa-apa, IC juga dingin seperti tidak mendapatkan tegangan.

  • Seperti tingkah-tingkah bengkel lainnya, yang suka mencoba dengan komponen sejenis dari tv lain yang normal dan se-model hanya sekedar ingin memastikan memang benar IC tersebut yang rusak, alhasil, kedua TV malah mati/bermasalah semuanya.

Dari ketiga pengalaman di atas, ternyata problemnya berada pada solder yang bocor tegangan AC-nya. Jika solder yang dipakai bocor 25VAC saja, dapat dibayangkan bahwa tegangan AC sebesar itu dimasukkan ke pin-pin yang disolder alias memberi tegangan pada IC/komponen yang disolder dengan 25VAC.

Demikian semoga bermanfaat dan menjadi masukan dan pelajaran bagi kita semua. Aaamiin

Kembali ke daftar isi