20 Februari 2010

MENCARI DAN MENGIDENTIFIKASI JALUR PADA TV

Kegiatan perbaikan perangkat elektronik tidak lepas dari pengurutan jalur-jalur dan identifikasi jalur. Sebenarnya, cara yang terbaik adalah dengan menghafalkan fungsi kaki-kaki dari IC yang penting-penting saja. Tidak harus menghafal, tetapi seiring dengan perjalanan pengalaman servis, Penulis yakin fungsi-fungsi pin tersebut akan hafal dengan sendirinya.
Saking banyaknya jalur beserta fungsi yang berbeda, untuk membatasi masalah, Penulis hanya mengulas beberapa jalur-jalur penting yang telah menjadi Favorite bengkel elektronik, terlebih TV.
  1. Pin/kaki Tegangan VCC/VDD pada IC
    Salah satu jenis komponen elektronika yang sulit sekali dimasukkan ke dalam IC adalah electrolyte capacitor/condensator (elko). Pada desain-desain rangkaian elektronika, penggunaan elko salah satunya difungsikan sebagai filter tegangan DC, semakin besar nilainya, semakin baik filtrasinya. Elko ini dipasang sedekat mungkin dengan kaki-kaki VCC/VDD IC, jadi untuk menemukan pin/kaki VCC/VDD sebuah IC, tinggal mencari elko yang paling besar nilainya dan terdekat dengan IC. Dengan catatan, salah satu kaki elko mendapatkan tegangan dari luar IC.
    Khusus untuk IC-IC logika (IC digital), seperti CD4052, MC14066, CD4094 dan lain-lain, kemasan dual in-line package (DIP), secara umum pin/kaki VDD/VCCnya berada pada urutan kaki yang terbesar (misal, CD4066, kaki VDD pada pin14, kaki VSS/VEE pada pin7, 24Cxx, VDD=8, VSS=4).
  2. Pin/kaki Reset IC Program
    Hampir semua TV saat ini memakai IC program atau mikro komputer (micom) sebagai otaknya. Sedangkan IC program yang pada dasarnya adalah sebuah komputer mikro/mini tentunya mempunyai kaki yang difungsikan sebagai input Reset.
    Reset merupakan pin/input yang digunakan untuk memberi sinyal kepada IC program supaya IC program menjalankan kembali rutin-rutin/program dari awal. Dalam proses perbaikan, penggunaan metode hard-reset sangat mempermudah dalam mencari kesalahan-kesalahan dalam perangkat TV yang bersifat logik (misalnya status AV, status pinout program, atau untuk mendeteksi normal tidaknya IC program itu sendiri).
    Metode hard-reset dapat dilakukan dengan mengkonsletkan pin reset ic program ke GND/VSS sekitar 1 detian (dalam beberapa type/jenis ic program dengan ‘menarik’ ke VDD).
    Tidak lepas dari desain-desain IC program, kaki reset umumnya dapat ditemukan berada disamping salah satu pin/kaki kristal, ditandai dengan terhubungnya kaki tersebut ke output rangkaian reset. Rangkaian reset dimaksud sering kali terdiri dari IC reset (misal, KIA7045) atau dalam bentuk kombinasi transistor dan komponen lain yang membentuk rangkaian detektor tegangan (melepaskan pulsa/denyut reset jika tegangan yang masuk sudah mencapai ambang yang ditentukan). Jenis rangkaian reset ini sering ditemukan di TV sasis china.
    Untuk keterangan lebih jauh tentang IC program TV, baca artikel Memahami dan Mengenal IC Program TV
  3. Bus Data (I2C)
    Pada artikel Memahami dan Mengenal IC Program TV, telah disinggung tentang fungsi dari bus data, tak lain adalah berfungsi sebagai jalur komunikasi antara komputer mikro tersebut dengan perangkat-perangkat atau IC-IC lainnya. Pada desain-desain TV baru, penggunaan bus I2C menjadi sangat populer karena keringkasannya.
    Cara tercepat mencari bus data adalah dengan mencari dan membaca data IC-IC yang dilengkapi dengan bus data, misalnya IC memori 24Cxx, pin5-nya adalah SDA dan pin6-nya adalah SCL. Semua jalur yang terhubung pada pin-pin tersebut merupakan jalur bus data yang terdiri dari SDA dan SCL. Bagi seorang teknisi, menghafalkan pin-pin ini merupakan tindakan yang penting dilakukan.
    Gangguan-gangguan pada jalur SDA/SCL menyebabkan IC program gagal untuk memerintah/membaca dari perangkat/IC luar. Akibatnya TV tidak menyala (karena subrutin watchdog) atau adanya beberapa fasilitas TV yang tidak berfungsi (misalnya tuner tidak bisa diset). Hal ini sangat logis sekali karena hampir semua fungsi pengontrolan TV diwakili oleh ‘dua jalur’ ini, sehingga perhatian lebih terhadap bus ini sangat penting.
  4. Jalur Proteksi
    Artikel tentang proteksi dan cara menemukan jalur protek, baca artikel Sistem Proteksi Pada TV
  5. Kontrol Power/Standby
    Jika Pembaca pernah membaca artikel tentang Sistem Proteksi Pada TV, di artikel tersebut sudah disinggung beberapa metode untuk ‘mematikan’ perangkat TV yang dilakukan oleh IC program. Secara mudahnya, pin kontrol power dapat ditemukan dengan mengurut masukan/input dari rangkaian-rangkaian power_off tersebut. Pada desain TV yang memakai IC KA78R09 atau 090RDA1 pin power dapat ditemukan dengan mengurut dari pin4 IC tersebut karena secara urut pin-pinnya adalah v_input, v_output, gnd dan v_disabled.
    Pada desain TV yang power-nya mengontrol smps, dapat diurut dari pengontrol optocoupler. Karena optocoupler bagian dari rangkaian error_amp, maka sangat memungkinkan untuk mengontrol tegangan output dari smps menjadi power_on atau power_off.
  6. Kontrol Switch AV
    Seperti halnya mencari jalur bus data, jalur kontrol switch AV dapat dengan mudah ditemukan dengan mencari IC atau rangkaian switch AV-nya terlebih dahulu.
    Beberapa IC switch (logic) yang sering dijumpai antara lain : LA7016 (pin3), CD4066/MC14066 (pin5, 6, 12, 13), 4051 (pin10, 11, 9), 4052 (pin10, 9) dan 4053 (pin11, 10, 9).
    Pada beberapa IC misalnya TDA8361, pin AV switch menggunakan pin16. Sedangkan pada jenis-jenis terbaru, switch AV sudah masuk kedalam IC chroma/jungle dan dikontrol oleh program menggunakan bus data. Meski sudah masuk dalam IC jungle/chroma tetapi tidak jarang juga ditemukan desain yang masih menggunakan swith AV eksternal (semuanya tergantung desainernya).
  7. Volume, Contrast, Color dan Brightness
    Pin-pin IC program yang difungsikan sebagai volume, contrast, color dan brightness berjenis DAC (digital to analog converter). Karena berjenis DAC, cara termudah dengan mengetes kaki-kaki IC program sambil menggerakkan/mengeset volume, contrast, color dan brightness menggunakan tombol panel atau remot.
    Cara tersebut di atas terlihat sangat bertele-tele, tetapi memang cara tersebut yang termudah. Untuk model-model desain baru, pin-pin kontrol ini sudah jarang atau bahkan tidak dipakai lagi dan sudah tergantikan dengan bus data.
  8. VT (Tuning Voltage)
    Seperti halnya pin-pin kontrol volume, pin VT juga berjenis DAC. Pin ini dapat diurut dari kaki VT tuner. Sedangkan untuk mengidentifikasi kaki VT tuner ditandai dengan adanya deretan rangkaian filter RC yang terhubung ke kaki tersebut. Sedangkan ujung/masukan filter RC tersebut terhubung dengan kaki kolektor transistor VT dan basis dari transistor tersebut merupakan input sekaligus output VT dari IC program.
    Pada tuner jenis baru yang menggunakan bus data (SDA, SCL), tegangan konstan VT (30an volt) langsung dimasukkan ke tuner sekaligus rangkaian-rangkaian filter-filter RC dan transistor VT. Untuk menggeser/mengeset frekuensi tuner secara praktis menggunakan bus data.
  9. Audio Mute
    Fungsi audio mute selain dapat direalisasikan dengan mengenolkan tegangan volume, dapat juga dengan rangkaian mute eksternal. Umumnya menggunakan transistor yang kaki kolektornya langsung ‘menyadap’ jalur sinyal audio output (yang masuk ke audio amplifier) dan kaki basisnya dikontrol langsung oleh IC program. Cara kerjanya cukup sederhana, jika kaki basis mendapatkan bias, maka transistor akan ‘membumikan’ sinyal audio pada kolektornya.
  10. VIF Output (Video)
    Proses sinyal IF pada TV analog menghasilkan sinyal video yang masih tercampur dengan sinyal audio. Sebelum sinyal video ini ditampilkan/diproses lebih jauh, sinyal ini harus difilter dulu untuk mengeliminasi sinyal suara yang masih ada di dalam sinyal output VIF tersebut.
    Karena filtrasi sinyal audio pada VIF out mutlak diperlukan, maka cara tercepat mengidentifikasi jalur VIF out dengan mencari rangkaian filternya yang terdiri dari CF yang diparalel dengan lilitan (membentuk notch filter). Sering dijumpai menggunakan CF 5.5Mc diparalel dengan lilitan 15uH.
  11. SIF Input dan Audio Output
    Setelah jalur VIF out teridentifikasi, secara otomatis SIF input juga dapat teridentifikasi. Sebelum sinyal VIF out masuk ke filter/trap, sinyal VIF ini ‘dicabang’ menuju ke SIF input, umumnya melalui CF terlebih dahulu, fungsi CF ini untuk memilih hanya suara saja yang diproses.
    Pada sistem MPX/stereo, SIF input dapat mengambil dan memproses langsung dari pin output IF dari tuner. Sedangkan sinyal audio hasil pemrosesan/deteksi dioutputkan dengan melalui deemphasis terlebih dahulu. Fungsi deemphasis adalah memperbaiki nilai S/N pada audio hasil deteksi. Karena kontrol volume umumnya sudah masuk dalam IC chroma/IF/jungle atau tidak jarang juga yang langsung mengontrol IC audio amplifier, maka output audio dari SIF out langsung menuju ke audio amplifier sehingga lebih mudah diurut.
    Sedangkan cara paling kuno yang terbukti efektif untuk mencari pin input amplifier audio yaitu dengan memegang pin-pin audio amplifier.
  12. Jalur ABL
    Pengertian ABL tidak jauh dari kepanjangannya yaitu Automatic Blanking Limiter, yang berarti pembatas cahaya/terangnya layar secara otomatis. Jika terdapat gangguan pada sistem ABL, gambar menjadi tidak kontras atau bahkan gelap (sramun-sramun istilah jawanya). Tidak hanya itu, tabung yang sudah lemah juga mengakibatkan efek yang sama, karena sudah diluar batas ABL.
    Cara kerja ABL adalah dengan mengendalikan preset kontras/brightness tergantung dari terang tidaknya layar/gambar. Ketika kontras dinaikkan, tegangan adjust kontrast akan naik dan dipertemukan dengan tegangan ABL melalui dioda. Dioda ini akan mengerem/mengurangi tegangan adjust tersebut berdasarkan tegangan pada pin ABL yang prinsipnya menurun ketika layar menampilkan gambar yang terang.
    Jadi cara termudah untuk mencari jalur ABL adalah dengan mencari pin kontrol kontras pada IC chroma atau sebaliknya yaitu dari pin ABL pada FBT. Cara yang pertama cukup dengan membaca datasheet IC chroma dengan mencari pin-out yang berfungsi sebagai adjusment contrast/brightness. Pada jenis-jenis IC chroma yang baru, pin control kontras tidak ‘dikeluarkan’ dan cara mengesetnya dengan data secara internal sedangkan untuk melengkapi fungsi ABL, pada ic tersebut dilengkapi dengan pin ABL/ACL tersendiri.
    Cara yang kedua adalah dengan mencari pin ABL pada kaki TFB, dengan cara menggunakan multitester, set pada x10Kohm, taruh hubungkan probe positif ke anoda/kop flyback, jika jarum bergerak kemudian balik polaritas/probenya, jika sama dengan mengetes dioda, berarti pin yang mendapatkan probe positif adalah kaki ABL TFB.
  13. AFC
    IC jungle, berfungsi sebagai generator/osilator frekuensi horisontal, yang dalam sistem PAL sekitar 15625Hz dan bekerja secara free running (bekerja pada frekuensi tidak tentu, bisa naik/turun dalam band/rentang tertentu). Frekuensi yang dihasilkan ini dikuatkan oleh rangkaian driver yang kemudian digunakan untuk menghidup-matikan TFB. Selama proses penguatan tersebut, frekuensi ini mudah sekali bergeser, dimulai dari bergesernya fasa hingga bergesernya frekuensi.
    Automatic Frequency Control dimaksudkan untuk menahan frekuensi tersebut supaya tetap terkunci dan sefasa dengan sumbernya. Untuk lebih mudahnya, ketika osilator horisontal dinyalakan dan sebelum ada sinyal video, sinyal/frekuensi horisontal berada pada nilai tertentu (katakan saja 15250Hz) yang dikuatkan hingga ke tahap FBT, kemudian pulsa dalam FBT ‘disensor/dicuplik’ untuk menghasilkan sinyal/pulsa AFC. Karena pembanding fasa pada rangkaian osilator horisontal mendapatkan pulsa AFC tersebut, maka secara otomatis osilator tersebut segera menyesuaikan diri dengan mengadjust outputnya tetap pada frekuensinya. Begitu juga ketika ada sinyal video, dimisalkan sebelumnya osilator sudah terkunci pada 15250Hz lalu ada sinyal video berformat PAL yang masuk dalam pemisah syncronisasi yang salah satunya menghasilkan pulsa syncronisasi horisontal (H-SYNC), pulsa ini digunakan untuk mengadjust frekuensi osilator horisontal pada format PAL yaitu 15625Hz. Karena frekuensi output sudah berubah, secara otomatis sinyal/pulsa AFC juga berubah yang akhirnya mengunci osilator tetap pada frekuensi PAL tersebut.
    Berdasarkan cara kerja yang diulas diatas, jalur AFC dapat dengan mudah ditemukan dengan mencari jalur ‘penculik’ yang mengambil sampel pulsa dari FBT menuju ke osilator horisontal. Pada umumnya menggunakan pin/kaki FBT tersendiri yang dinamakan pin AFC atau sekedar nimbrung di salah satu sekunder FBT.
    AFC, selain digunakan sebagai pengunci frekuensi horisontal, juga digunakan sebagai pemandu bagi osilator OSD yaitu memandu kordinat/lokasi OSD horisontal yang akan ditampilkan oleh IC program.

Kembali ke daftar isi

11 Februari 2010

BEBERAPA PENYEBAB KERUSAKAN PADA PERANGKAT TV

Dengan mengetahui penyebab kerusakan TV, sangat membantu dalam proses servis disamping ‘cerita’ dari yang punya. Setelah sekian waktu masih menjalani profesi sebagai servis elektronik, alhamdulillah dapat terkumpul beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik terlebih pada TV berdasarkan pengalaman Penulis.
Walaupun sudah mengetahui penyebab kerusakan, seorang bengkel tidak serta merta dapat memfonis komponen mana yang rusak tanpa diterawang, dibuka dan diperiksa terlebih dahulu. Dari segi pelanggan, tidak jarang juga para pelanggan mempunyai ilmu penerawangan sendiri, mungkin cuman ‘itunya’ yang rusak.
Berikut ini beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik:
  1. Cicak
    Hewan ini mempunyai rating yang cukup menggiurkan, tidak bisa diremehkan begitu saja. Hampir semua bengkel pernah mengalaminya. Secara alami, seekor cicak akan mencari tempat yang ‘hangat’ untuk bertelur. Menurut pengalaman beberapa pengguna/pemilik, kerusakan yang disebabkan karena ketika pemilik/pengguna mematikan TV cukup dengan remot dan ditinggal begitu saja. Meski TV sudah mati yang sebenarnya bukan mati akan tetapi dalam keadaan standby yang notabene smps/ac-matic masih bekerja. Jadi tidak heran jika blok SMPS/ac-matic menjadi sasaran empuk bagi cicak ini, “hangat-hangat mematikan”, kata si cicak.

  2. Kucing
    Hewan teritorial ini senang sekali menandai daerahnya dengan pipis sana pipis sini. Lihat aja selebor sepeda motor atau mobil, dibaui sebentar trus crit. Begitu juga dengan TV. Mengapa kucing senang sekali pipis di TV???
    Setelah melalui tahap-tahap penelitian yang sedikit guyon, akhirnya dapat terbongkar rahasia si kucing (dengan guyon juga), ternyata ketika TV yang ‘selalu’ dipipisi kucing pernah mengalami kerusakan, kemudian oleh pemiliknya dibawa ke bengkel. Nhaaa di bengkel inilah TV tersebut dipipisi oleh ‘kucing lain’, setelah TV selesai, sang bengkel tidak membersihkan (mungkin gak tahu kalo pernah dipipisi kucing di tempat kerjanya) lalu diambil pemiliknya dan dibawa pulang. Karena kucing yang berada dirumah pemilik ‘mencium’ bau mencurigakan, langsung saja mak critt disitu juga. Kemudian rusak dan dibawa ke bengkel lagi, lalu ketika berada di bengkel TV tersebut dicrit oleh kucing lain dan seterusnya.

  3. Kualitas Komponen yang Buruk
    Kalau penyebab yang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Karena meningkatnya persaingan secara otomatis produsen akan sedikit meringkas biaya produksi, salah satunya dengan meringkas kualitas komponen.

  4. Umur
    Pada dasarnya, sebuah pabrik dalam mendesain produknya selalu mempertimbangkan umur efektif dari produknya. Misalnya TV, katakan saja sebuah produsen mendesain untuk berumur efektif 5 tahun, secara otomatis, bentuk desain dan semua komponen yang dipakai juga berumur sekitar itu juga. Jadi jika ada produk yang sudah berumur melebihi targetnya anggap saja ‘keuntungan sampingan’. Jadi tidak heran jika menyervis TV jadul selesai servis bagian itu, beberapa waktu kemudian sudah pindah lagi yang ini.

  5. Petir
    Tidak terduga dan tidak tersangka, tapi satu penyebab ini sering sekali menimpa TV kesayangan. Dari jenis kerusakan minimal hingga yang parah. Kerusakan minimal jika petir menyambar bagian jala-jala PLN, sedangkan kerusakan parah jika menyambar antena dan secara kebetulan dalam perangkat TV tidak dilengkapi dengan anti petir untuk meminimalisasi kerusakan. Secara alami, elektron akan mengalir dari yang terujung (terdekat dengan bumi) jadi kerusakan terberat berada pada player/DVD yang terpasang pada TV, dan jalur AV pada TV juga mengalami kerusakan berat.

  6. Tegangan
    Seperti halnya petir, tegangan yang melebihi tegangan kerja, tegangan yang tidak stabil, tegangan kejut juga dapat mengakibatkan kerusakan pada TV. Jika ada pengaman untuk tegangan lebih, paling hanya komponen pelindung tersebut dan sekring yang rusak.

  7. Bengkel Sembrono
    Di awal sudah disinggung bahwa umur TV ‘sebenarnya’ sudah ditargetkan oleh produsennya. Ketika belum mencapai umurnya sudah mengalami kerusakan, kemudian oleh bengkel sembrono diutak-atik akhirnya malah tambah parah kerusakannya. Penggantian komponen alternatif yang tidak ‘selevel’ juga memperpendek umur dari TV.

  8. Ular
    Ya… memang ular. Suatu ketika membongkar TV, ternyata ada ular yang telah menjadi bangkai dengan posisi meringkuk tepat di bawah rangkaian smps. Menurut otopsi, penyebab kematiannya karena kesetrum tegangan B+ 300V. Mengapa ada ular sampai ke daerah tersebut? Penyidik tidak sempat menginterogasi ular tersebut karena bangkainya sudah keburu dibuang oleh bengkelnya.

  9. Sebab lain
    Kalau sebab yang satu ini, bagaimana cara mengulasnya??? Namanya juga sebab lain.

Pengalaman Lain


Penulis yakin ada salah satu Pembaca yang pernah mengalaminya. Pengalaman ini cukup untuk menjadi pelajaran dalam meningkatkan kewaspadaan bengkel terhadap komponen yang ‘katanya’ palsu atau gak bisa dipasang.
Pengalaman-pengalaman berikut ini diambil dari pengalam pribadi Penulis dan teman-teman penulis. Pengalaman-pengalaman berikut ini berujung pada satu kesimpulan yang dibenarkan oleh para pelaku dengan satu kesimpulan.
  • Suatu ketika memperbaiki perangkat televisi, menurut penerawangan bengkel kerusakan diperkirakan hanya solderan yang retak. Kadang TV bisa hidup normal, kadang standby, kadang warna hilang. Setelah dilakukan solder ulang pada beberapa bagian tidak luput pula kaki-kaki IC chroma/jungle, TV malah mati standby.

  • Pada pelaku yang lain, setelah 2 hari bergelut, akhirnya IC program dinyatakan rusak dengan konsletnya kaki reset dengan ground, dengan dana terbatas akhirnya pelaku membeli IC pengganti ke service center, dipasangnya IC tersebut, ketika dicoba tidak ada reaksi apa-apa, IC juga dingin seperti tidak mendapatkan tegangan.

  • Seperti tingkah-tingkah bengkel lainnya, yang suka mencoba dengan komponen sejenis dari tv lain yang normal dan se-model hanya sekedar ingin memastikan memang benar IC tersebut yang rusak, alhasil, kedua TV malah mati/bermasalah semuanya.

Dari ketiga pengalaman di atas, ternyata problemnya berada pada solder yang bocor tegangan AC-nya. Jika solder yang dipakai bocor 25VAC saja, dapat dibayangkan bahwa tegangan AC sebesar itu dimasukkan ke pin-pin yang disolder alias memberi tegangan pada IC/komponen yang disolder dengan 25VAC.

Demikian semoga bermanfaat dan menjadi masukan dan pelajaran bagi kita semua. Aaamiin

Kembali ke daftar isi