27 Februari 2010

MENCARI DAN MENGIDENTIFIKASI JALUR PADA TV

  1. ABL
    Pengertian ABL tidak jauh dari kepanjangannya yaitu Automatic Blanking Limiter, yang berarti pembatas cahaya/terangnya layar secara otomatis. Jika terdapat gangguan pada sistem ABL, gambar menjadi tidak kontras atau bahkan gelap (sramun-sramun istilah jawanya). Tidak hanya itu, tabung yang sudah lemah juga mengakibatkan efek yang sama, karena sudah diluar batas ABL.
    Cara kerja ABL adalah dengan mengendalikan preset kontras/brightness tergantung dari terang tidaknya layar/gambar. Ketika kontras dinaikkan, tegangan adjust kontrast akan naik dan dipertemukan dengan tegangan ABL melalui dioda. Dioda ini akan mengerem/mengurangi tegangan adjust tersebut berdasarkan tegangan pada pin ABL yang prinsipnya menurun ketika layar menampilkan gambar yang terang.
    Jadi cara termudah untuk mencari jalur ABL adalah dengan mencari pin kontrol kontras pada IC chroma atau sebaliknya yaitu dari pin ABL pada FBT. Cara yang pertama cukup dengan membaca datasheet IC chroma dengan mencari pin-out yang berfungsi sebagai adjusment contrast/brightness. Pada jenis-jenis IC chroma yang baru, pin control kontras tidak ‘dikeluarkan’ dan cara mengesetnya dengan data secara internal sedangkan untuk melengkapi fungsi ABL, pada ic tersebut dilengkapi dengan pin ABL/ACL tersendiri.
    Cara yang kedua adalah dengan mencari pin ABL pada kaki TFB, dengan cara menggunakan multitester, set pada x10Kohm, taruh hubungkan probe positif ke anoda/kop flyback, jika jarum bergerak kemudian balik polaritas/probenya, jika sama dengan mengetes dioda, berarti pin yang mendapatkan probe positif adalah kaki ABL TFB.

  2. AFC
    IC jungle, berfungsi sebagai generator/osilator frekuensi horisontal, yang dalam sistem PAL sekitar 15625Hz dan bekerja secara free running (bekerja pada frekuensi tidak tentu, bisa naik/turun dalam band/rentang tertentu). Frekuensi yang dihasilkan ini dikuatkan oleh rangkaian driver yang kemudian digunakan untuk menghidup-matikan TFB. Selama proses penguatan tersebut, frekuensi ini mudah sekali bergeser, dimulai dari bergesernya fasa hingga bergesernya frekuensi.
    Automatic Frequency Control dimaksudkan untuk menahan frekuensi tersebut supaya tetap terkunci dan sefasa dengan sumbernya. Untuk lebih mudahnya, ketika osilator horisontal dinyalakan dan sebelum ada sinyal video, sinyal/frekuensi horisontal berada pada nilai tertentu (katakan saja 15250Hz) yang dikuatkan hingga ke tahap FBT, kemudian pulsa dalam FBT ‘disensor/dicuplik’ untuk menghasilkan sinyal/pulsa AFC. Karena pembanding fasa pada rangkaian osilator horisontal mendapatkan pulsa AFC tersebut, maka secara otomatis osilator tersebut segera menyesuaikan diri dengan mengadjust outputnya tetap pada frekuensinya. Begitu juga ketika ada sinyal video, dimisalkan sebelumnya osilator sudah terkunci pada 15250Hz lalu ada sinyal video berformat PAL yang masuk dalam pemisah syncronisasi yang salah satunya menghasilkan pulsa syncronisasi horisontal (H-SYNC), pulsa ini digunakan untuk mengadjust frekuensi osilator horisontal pada format PAL yaitu 15625Hz. Karena frekuensi output sudah berubah, secara otomatis sinyal/pulsa AFC juga berubah yang akhirnya mengunci osilator tetap pada frekuensi PAL tersebut.
    Berdasarkan cara kerja yang diulas diatas, jalur AFC dapat dengan mudah ditemukan dengan mencari jalur ‘penculik’ yang mengambil sampel pulsa dari FBT menuju ke osilator horisontal. Pada umumnya menggunakan pin/kaki FBT tersendiri yang dinamakan pin AFC atau sekedar nimbrung di salah satu sekunder FBT.
    AFC, selain digunakan sebagai pengunci frekuensi horisontal, juga digunakan sebagai pemandu bagi osilator OSD yaitu memandu kordinat/lokasi OSD horisontal yang akan ditampilkan oleh IC program.


  3. Penulis 2010



20 Februari 2010

MENCARI DAN MENGIDENTIFIKASI JALUR PADA TV

Kegiatan perbaikan perangkat elektronik tidak lepas dari pengurutan jalur-jalur dan identifikasi jalur. Sebenarnya, cara yang terbaik adalah dengan menghafalkan fungsi kaki-kaki dari IC yang penting-penting saja. Tidak harus menghafal, tetapi seiring dengan perjalanan pengalaman servis, Penulis yakin fungsi-fungsi pin tersebut akan hafal dengan sendirinya.
Saking banyaknya jalur beserta fungsi yang berbeda, untuk membatasi masalah, Penulis hanya mengulas beberapa jalur-jalur penting yang telah menjadi Favorite bengkel elektronik, terlebih TV.
  1. Pin/kaki Tegangan VCC/VDD pada IC
    Salah satu jenis komponen elektronika yang sulit sekali dimasukkan ke dalam IC adalah electrolyte capacitor/condensator (elko). Pada desain-desain rangkaian elektronika, penggunaan elko salah satunya difungsikan sebagai filter tegangan DC, semakin besar nilainya, semakin baik filtrasinya. Elko ini dipasang sedekat mungkin dengan kaki-kaki VCC/VDD IC, jadi untuk menemukan pin/kaki VCC/VDD sebuah IC, tinggal mencari elko yang paling besar nilainya dan terdekat dengan IC. Dengan catatan, salah satu kaki elko mendapatkan tegangan dari luar IC.
    Khusus untuk IC-IC logika (IC digital), seperti CD4052, MC14066, CD4094 dan lain-lain, kemasan dual in-line package (DIP), secara umum pin/kaki VDD/VCCnya berada pada urutan kaki yang terbesar (misal, CD4066, kaki VDD pada pin14, kaki VSS/VEE pada pin7, 24Cxx, VDD=8, VSS=4).

  2. Pin/kaki Reset IC Program
    Hampir semua TV saat ini memakai IC program atau mikro komputer (micom) sebagai otaknya. Sedangkan IC program yang pada dasarnya adalah sebuah komputer mikro/mini tentunya mempunyai kaki yang difungsikan sebagai input Reset.
    Reset merupakan pin/input yang digunakan untuk memberi sinyal kepada IC program supaya IC program menjalankan kembali rutin-rutin/program dari awal. Dalam proses perbaikan, penggunaan metode hard-reset sangat mempermudah dalam mencari kesalahan-kesalahan dalam perangkat TV yang bersifat logik (misalnya status AV, status pinout program, atau untuk mendeteksi normal tidaknya IC program itu sendiri).
    Metode hard-reset dapat dilakukan dengan mengkonsletkan pin reset ic program ke GND/VSS sekitar 1 detian (dalam beberapa type/jenis ic program dengan ‘menarik’ ke VDD).
    Tidak lepas dari desain-desain IC program, kaki reset umumnya dapat ditemukan berada disamping salah satu pin/kaki kristal, ditandai dengan terhubungnya kaki tersebut ke output rangkaian reset. Rangkaian reset dimaksud sering kali terdiri dari IC reset (misal, KIA7045) atau dalam bentuk kombinasi transistor dan komponen lain yang membentuk rangkaian detektor tegangan (melepaskan pulsa/denyut reset jika tegangan yang masuk sudah mencapai ambang yang ditentukan). Jenis rangkaian reset ini sering ditemukan di TV sasis china.
    Untuk keterangan lebih jauh tentang IC program TV, baca artikel Memahami dan Mengenal IC Program TV

  3. Bus Data (I2C)
    Pada artikel Memahami dan Mengenal IC Program TV, telah disinggung tentang fungsi dari bus data, tak lain adalah berfungsi sebagai jalur komunikasi antara komputer mikro tersebut dengan perangkat-perangkat atau IC-IC lainnya. Pada desain-desain TV baru, penggunaan bus I2C menjadi sangat populer karena keringkasannya.
    Cara tercepat mencari bus data adalah dengan mencari dan membaca data IC-IC yang dilengkapi dengan bus data, misalnya IC memori 24Cxx, pin5-nya adalah SDA dan pin6-nya adalah SCL. Semua jalur yang terhubung pada pin-pin tersebut merupakan jalur bus data yang terdiri dari SDA dan SCL. Bagi seorang teknisi, menghafalkan pin-pin ini merupakan tindakan yang penting dilakukan.
    Gangguan-gangguan pada jalur SDA/SCL menyebabkan IC program gagal untuk memerintah/membaca dari perangkat/IC luar. Akibatnya TV tidak menyala (karena subrutin watchdog) atau adanya beberapa fasilitas TV yang tidak berfungsi (misalnya tuner tidak bisa diset). Hal ini sangat logis sekali karena hampir semua fungsi pengontrolan TV diwakili oleh ‘dua jalur’ ini, sehingga perhatian lebih terhadap bus ini sangat penting.

  4. Protek
    Artikel tentang proteksi dan cara menemukan jalur protek, baca artikel Sistem Proteksi Pada TV

  5. Kontrol Power/Standby
    Jika Pembaca pernah membaca artikel tentang Sistem Proteksi Pada TV, di artikel tersebut sudah disinggung beberapa metode untuk ‘mematikan’ perangkat TV yang dilakukan oleh IC program. Secara mudahnya, pin kontrol power dapat ditemukan dengan mengurut masukan/input dari rangkaian-rangkaian power_off tersebut. Pada desain TV yang memakai IC KA78R09 atau 090RDA1 pin power dapat ditemukan dengan mengurut dari pin4 IC tersebut karena secara urut pin-pinnya adalah v_input, v_output, gnd dan v_disabled.
    Pada desain TV yang power-nya mengontrol smps, dapat diurut dari pengontrol optocoupler. Karena optocoupler bagian dari rangkaian error_amp, maka sangat memungkinkan untuk mengontrol tegangan output dari smps menjadi power_on atau power_off.

  6. Kontrol Switch AV
    Seperti halnya mencari jalur bus data, jalur kontrol switch AV dapat dengan mudah ditemukan dengan mencari IC atau rangkaian switch AV-nya terlebih dahulu.
    Beberapa IC switch (logic) yang sering dijumpai antara lain : LA7016 (pin3), CD4066/MC14066 (pin5, 6, 12, 13), 4051 (pin10, 11, 9), 4052 (pin10, 9) dan 4053 (pin11, 10, 9).
    Pada beberapa IC misalnya TDA8361, pin AV switch menggunakan pin16. Sedangkan pada jenis-jenis terbaru, switch AV sudah masuk kedalam IC chroma/jungle dan dikontrol oleh program menggunakan bus data. Meski sudah masuk dalam IC jungle/chroma tetapi tidak jarang juga ditemukan desain yang masih menggunakan swith AV eksternal (semuanya tergantung desainernya).

  7. Volume, Contrast, Color dan Brightness
    Pin-pin IC program yang difungsikan sebagai volume, contrast, color dan brightness berjenis DAC (digital to analog converter). Karena berjenis DAC, cara termudah dengan mengetes kaki-kaki IC program sambil menggerakkan/mengeset volume, contrast, color dan brightness menggunakan tombol panel atau remot.
    Cara tersebut di atas terlihat sangat bertele-tele, tetapi memang cara tersebut yang termudah. Untuk model-model desain baru, pin-pin kontrol ini sudah jarang atau bahkan tidak dipakai lagi dan sudah tergantikan dengan bus data.

  8. VT (Tuning Voltage)
    Seperti halnya pin-pin kontrol volume, pin VT juga berjenis DAC. Pin ini dapat diurut dari kaki VT tuner. Sedangkan untuk mengidentifikasi kaki VT tuner ditandai dengan adanya deretan rangkaian filter RC yang terhubung ke kaki tersebut. Sedangkan ujung/masukan filter RC tersebut terhubung dengan kaki kolektor transistor VT dan basis dari transistor tersebut merupakan input sekaligus output VT dari IC program.
    Pada tuner jenis baru yang menggunakan bus data (SDA, SCL), tegangan konstan VT (30an volt) langsung dimasukkan ke tuner sekaligus rangkaian-rangkaian filter-filter RC dan transistor VT. Untuk menggeser/mengeset frekuensi tuner secara praktis menggunakan bus data.

  9. Audio Mute
    Fungsi audio mute selain dapat direalisasikan dengan mengenolkan tegangan volume, dapat juga dengan rangkaian mute eksternal. Umumnya menggunakan transistor yang kaki kolektornya langsung ‘menyadap’ jalur sinyal audio output (yang masuk ke audio amplifier) dan kaki basisnya dikontrol langsung oleh IC program. Cara kerjanya cukup sederhana, jika kaki basis mendapatkan bias, maka transistor akan ‘membumikan’ sinyal audio pada kolektornya.

  10. VIF Output (Video)
    Proses sinyal IF pada TV analog menghasilkan sinyal video yang masih tercampur dengan sinyal audio. Sebelum sinyal video ini ditampilkan/diproses lebih jauh, sinyal ini harus difilter dulu untuk mengeliminasi sinyal suara yang masih ada di dalam sinyal output VIF tersebut.
    Karena filtrasi sinyal audio pada VIF out mutlak diperlukan, maka cara tercepat mengidentifikasi jalur VIF out dengan mencari rangkaian filternya yang terdiri dari CF yang diparalel dengan lilitan (membentuk notch filter). Sering dijumpai menggunakan CF 5.5Mc diparalel dengan lilitan 15uH.

  11. SIF Input dan Audio Output
    Setelah jalur VIF out teridentifikasi, secara otomatis SIF input juga dapat teridentifikasi. Sebelum sinyal VIF out masuk ke filter/trap, sinyal VIF ini ‘dicabang’ menuju ke SIF input, umumnya melalui CF terlebih dahulu, fungsi CF ini untuk memilih hanya suara saja yang diproses.
    Pada sistem MPX/stereo, SIF input dapat mengambil dan memproses langsung dari pin output IF dari tuner. Sedangkan sinyal audio hasil pemrosesan/deteksi dioutputkan dengan melalui deemphasis terlebih dahulu. Fungsi deemphasis adalah memperbaiki nilai S/N pada audio hasil deteksi. Karena kontrol volume umumnya sudah masuk dalam IC chroma/IF/jungle atau tidak jarang juga yang langsung mengontrol IC audio amplifier, maka output audio dari SIF out langsung menuju ke audio amplifier sehingga lebih mudah diurut.
    Sedangkan cara paling kuno yang terbukti efektif untuk mencari pin input amplifier audio yaitu dengan memegang pin-pin audio amplifier.


-bersambung-

11 Februari 2010

BEBERAPA PENYEBAB KERUSAKAN PADA PERANGKAT TV

Dengan mengetahui penyebab kerusakan TV, sangat membantu dalam proses servis disamping ‘cerita’ dari yang punya. Setelah sekian waktu masih menjalani profesi sebagai servis elektronik, alhamdulillah dapat terkumpul beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik terlebih pada TV berdasarkan pengalaman Penulis.
Walaupun sudah mengetahui penyebab kerusakan, seorang bengkel tidak serta merta dapat memfonis komponen mana yang rusak tanpa diterawang, dibuka dan diperiksa terlebih dahulu. Dari segi pelanggan, tidak jarang juga para pelanggan mempunyai ilmu penerawangan sendiri, mungkin cuman ‘itunya’ yang rusak.
Berikut ini beberapa penyebab kerusakan pada perangkat elektronik:
  1. Cicak
    Hewan ini mempunyai rating yang cukup menggiurkan, tidak bisa diremehkan begitu saja. Hampir semua bengkel pernah mengalaminya. Secara alami, seekor cicak akan mencari tempat yang ‘hangat’ untuk bertelur. Menurut pengalaman beberapa pengguna/pemilik, kerusakan yang disebabkan karena ketika pemilik/pengguna mematikan TV cukup dengan remot dan ditinggal begitu saja. Meski TV sudah mati yang sebenarnya bukan mati akan tetapi dalam keadaan standby yang notabene smps/ac-matic masih bekerja. Jadi tidak heran jika blok SMPS/ac-matic menjadi sasaran empuk bagi cicak ini, “hangat-hangat mematikan”, kata si cicak.

  2. Kucing
    Hewan teritorial ini senang sekali menandai daerahnya dengan pipis sana pipis sini. Lihat aja selebor sepeda motor atau mobil, dibaui sebentar trus crit. Begitu juga dengan TV. Mengapa kucing senang sekali pipis di TV???
    Setelah melalui tahap-tahap penelitian yang sedikit guyon, akhirnya dapat terbongkar rahasia si kucing (dengan guyon juga), ternyata ketika TV yang ‘selalu’ dipipisi kucing pernah mengalami kerusakan, kemudian oleh pemiliknya dibawa ke bengkel. Nhaaa di bengkel inilah TV tersebut dipipisi oleh ‘kucing lain’, setelah TV selesai, sang bengkel tidak membersihkan (mungkin gak tahu kalo pernah dipipisi kucing di tempat kerjanya) lalu diambil pemiliknya dan dibawa pulang. Karena kucing yang berada dirumah pemilik ‘mencium’ bau mencurigakan, langsung saja mak critt disitu juga. Kemudian rusak dan dibawa ke bengkel lagi, lalu ketika berada di bengkel TV tersebut dicrit oleh kucing lain dan seterusnya.

  3. Kualitas Komponen yang Buruk
    Kalau penyebab yang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Karena meningkatnya persaingan secara otomatis produsen akan sedikit meringkas biaya produksi, salah satunya dengan meringkas kualitas komponen.

  4. Umur
    Pada dasarnya, sebuah pabrik dalam mendesain produknya selalu mempertimbangkan umur efektif dari produknya. Misalnya TV, katakan saja sebuah produsen mendesain untuk berumur efektif 5 tahun, secara otomatis, bentuk desain dan semua komponen yang dipakai juga berumur sekitar itu juga. Jadi jika ada produk yang sudah berumur melebihi targetnya anggap saja ‘keuntungan sampingan’. Jadi tidak heran jika menyervis TV jadul selesai servis bagian itu, beberapa waktu kemudian sudah pindah lagi yang ini.

  5. Petir
    Tidak terduga dan tidak tersangka, tapi satu penyebab ini sering sekali menimpa TV kesayangan. Dari jenis kerusakan minimal hingga yang parah. Kerusakan minimal jika petir menyambar bagian jala-jala PLN, sedangkan kerusakan parah jika menyambar antena dan secara kebetulan dalam perangkat TV tidak dilengkapi dengan anti petir untuk meminimalisasi kerusakan. Secara alami, elektron akan mengalir dari yang terujung (terdekat dengan bumi) jadi kerusakan terberat berada pada player/DVD yang terpasang pada TV, dan jalur AV pada TV juga mengalami kerusakan berat.

  6. Tegangan
    Seperti halnya petir, tegangan yang melebihi tegangan kerja, tegangan yang tidak stabil, tegangan kejut juga dapat mengakibatkan kerusakan pada TV. Jika ada pengaman untuk tegangan lebih, paling hanya komponen pelindung tersebut dan sekring yang rusak.

  7. Bengkel Sembrono
    Di awal sudah disinggung bahwa umur TV ‘sebenarnya’ sudah ditargetkan oleh produsennya. Ketika belum mencapai umurnya sudah mengalami kerusakan, kemudian oleh bengkel sembrono diutak-atik akhirnya malah tambah parah kerusakannya. Penggantian komponen alternatif yang tidak ‘selevel’ juga memperpendek umur dari TV.

  8. Ular
    Ya… memang ular. Suatu ketika membongkar TV, ternyata ada ular yang telah menjadi bangkai dengan posisi meringkuk tepat di bawah rangkaian smps. Menurut otopsi, penyebab kematiannya karena kesetrum tegangan B+ 300V. Mengapa ada ular sampai ke daerah tersebut? Penyidik tidak sempat menginterogasi ular tersebut karena bangkainya sudah keburu dibuang oleh bengkelnya.

  9. Sebab lain
    Kalau sebab yang satu ini, bagaimana cara mengulasnya??? Namanya juga sebab lain.

Pengalaman Lain


Penulis yakin ada salah satu Pembaca yang pernah mengalaminya. Pengalaman ini cukup untuk menjadi pelajaran dalam meningkatkan kewaspadaan bengkel terhadap komponen yang ‘katanya’ palsu atau gak bisa dipasang.
Pengalaman-pengalaman berikut ini diambil dari pengalam pribadi Penulis dan teman-teman penulis. Pengalaman-pengalaman berikut ini berujung pada satu kesimpulan yang dibenarkan oleh para pelaku dengan satu kesimpulan.
  • Suatu ketika memperbaiki perangkat televisi, menurut penerawangan bengkel kerusakan diperkirakan hanya solderan yang retak. Kadang TV bisa hidup normal, kadang standby, kadang warna hilang. Setelah dilakukan solder ulang pada beberapa bagian tidak luput pula kaki-kaki IC chroma/jungle, TV malah mati standby.

  • Pada pelaku yang lain, setelah 2 hari bergelut, akhirnya IC program dinyatakan rusak dengan konsletnya kaki reset dengan ground, dengan dana terbatas akhirnya pelaku membeli IC pengganti ke service center, dipasangnya IC tersebut, ketika dicoba tidak ada reaksi apa-apa, IC juga dingin seperti tidak mendapatkan tegangan.

  • Seperti tingkah-tingkah bengkel lainnya, yang suka mencoba dengan komponen sejenis dari tv lain yang normal dan se-model hanya sekedar ingin memastikan memang benar IC tersebut yang rusak, alhasil, kedua TV malah mati/bermasalah semuanya.

Dari ketiga pengalaman di atas, ternyata problemnya berada pada solder yang bocor tegangan AC-nya. Jika solder yang dipakai bocor 25VAC saja, dapat dibayangkan bahwa tegangan AC sebesar itu dimasukkan ke pin-pin yang disolder alias memberi tegangan pada IC/komponen yang disolder dengan 25VAC.

Demikian semoga bermanfaat dan menjadi masukan dan pelajaran bagi kita semua. Aaamiin

04 Februari 2010

SISTEM PROTEKSI TV
BAGIAN 2

Proteksi Over Voltage dan No Voltage


Pada bagian ini hanya mengulas lebih jauh tentang proteksi Over Voltage dan No Voltage, untuk proteksi suhu dan sinkronisasi tidak diulas karena umumnya sudah masuk dalam komponen aktif. Sedangkan ulasan tentang pintu-pintu/port/pin dan logika proteksinya sebagai berikut :

  1. Memanfaatkan Pin/kaki IC program
    Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa IC program merupakan ‘otak’ dari perangkat TV maka cara termudah yaitu dengan memanfaatkan pin/port ic program untuk sensor proteksi. Keuntungan lain dari penggunaan pin/port adalah dimungkinkannya membuat suatu prosedur debugging dan self test (menampilkan kode kedip jika error).
    Pada kondisi normal, pin/port tersebut pada umumnya berlogika 1 (tegangan pada port/pin mendekati VCC/VDD IC program) dan untuk menjamin tegangan pada pin/port tersebut selalu pada logika 1 dipasanglah R pull up (pada sharp xpression menggunakan 100K). Ketika terdeteksi menurunnya tegangan pada pin/port ini, maka cpu/IC program akan menjalankan prosedur proteksi (mematikan perangkat, umumnya mematikan osilator horisontal).
    Karena secara normalnya berlogika 1 (High), maka output dari detektor No Voltage dapat langsung dihubungkan ke pin/port tersebut. Sedangkan untuk mendukung deteksi Over Voltage pada pin/port yang sama, maka output dari detektor Over Voltage tersebut harus ‘dibalik’ terlebih dahulu, umumnya menggunakan rangkaian 1 transistor yang disusun menjadi gerbang NOT (jika input=Hi maka output=Lo dan sebaliknya). Rangkaian gerbang ini mutlak diperlukan karena detektor Over Voltage menghasilkan tegangan jika terdeteksi tegangan lebih (berlawanan dengan detektor No Voltage).

  2. Memanfaatkan Pin/kaki EHT protection pada IC jungle/osilator
    Tidak seperti pin/port ic program, pin/kaki EHT secara umum normalnya berlogika 0 (Low, tegangan 0V atau beberapa volt saja). Tidak semua type IC selalu menggunakan 0V ketika normalnya, banyak juga tipe IC yang secara normalnya menggunakan volt/tegangan tertentu (tegangan ambang proteksi). Jumlah tegangan ambang proteksi tergantung type IC yang dipakai. Tetapi pada dasarnya sama, yaitu jika terdeteksi naiknya tegangan yang mencapai ambang proteksi pada pin/kaki tersebut maka IC jungle/osilator segera mematikan/men-disable pulsa horisontal (H-OUT). Hampir semua jenis ic jungle/osilator dilengkapi dengan fasilitas ini.
    Karena secara normalnya berlogika 0, maka pin/kaki EHT protection ini sangat efektif untuk proteksi X-ray dan Over Voltage. Proteksi yang menggunakan pin/kaki ini umumnya menyensor tegangan heater, tegangan ABL, atau tegangan-tegangan lain yang berasal dari sekunder TFB.

  3. Memanfaatkan pin/kaki/kontrol standby pada smps/ac-matic
    Model ini dapat ditemukan pada TV model jadul, desain dan proses servis menjadi agak rumit karena langsung mengontrol output dari smps/ac-matic. Sebagai contoh pada national/panasonic yang memakai AN5601K dan STR-51213. Pin5 dari STR51213 merupakan kontrol standby (on/off) power supply, rangkaian proteksinya ‘disisipkan’ pada blok kontrol standby tersebut.

Protek atau Standby


Kondisi TV standby secara umum cirinya adalah TFB atau horisontal tidak bekerja, tegangan-tegangan sekunder tidak ada (tegangan B+, tegangan ke tuner/peripheral dan tegangan sekunder lain) dan masih ada tegangan untuk IC program atau sering disebut V_STANDBY. Untuk menghasilkan tegangan V_STANDBY pada TV model jadul sering menggunakan trafo tersendiri atau ‘mengambil’ dari AC_IN 220V dengan resistor, tetapi pada model-model yang lebih baru cenderung menggunakan smps/ac-matic yang ‘jadi satu’ dan dapat dikontrol on/off-nya. Tujuannya tak lain adalah guna mendukung power saving (ngirit setrum).
Berdasarkan sistem proteksi yang secara urut prosesnya adalah TV keadaan standby, kemudian di-onkan oleh ic program, menyala beberapa saat, kemudian terdeteksi adanya ketidak beresan, akhirnya IC program kembali men-standby TV (menjalankan prosedur proteksi).
Kondisi standby dikontrol oleh ic program. Sedangkan syarat IC program bisa mengontrol, IC program harus sudah running/berjalan/aktif. Sedangkan syarat IC program running/aktif harus dalam kondisi normal, ada VCC standby, melalui proses reset dan mempunyai denyut/clock.
Jadi kesimpulannya, kondisi standby tidak selalu disebabkan oleh protek. Sedangkan protek selalu mengakibatkan standby.

Identifikasi Jalur Proteksi


Dalam proses servis, identifikasi jalur proteksi dimaksudkan untuk ‘melumpuhkan’ sementara proteksi dari perangkat TV yang sudah dilengkapi dengan proteksi. Jika proteksi tidak dilumpuhkan, proses servis menjadi lebih lama karena TV akan selalu kembali ke kondisi standby.Jalur proteksi dapat diidentifikasi dengan cara sebagai berikut :
  1. Cari jalur-jalur tegangan sekunder vital, misalnya, tegangan untuk vertikal, tegangan heater, tegangan RGB out (180V) dll. Tidak jarang juga pada tegangan hasil penyearahan dari sistem output amplifikasi, misalnya output vertikal (pump-out), pulsa-pulsa ini diubah tegangannya menjadi DC lalu besar tegangan DC-nya disensor (misalnya pada polytron/digitec).

  2. Pada umumnya jalur jalur tersebut disensor dengan menggunakan dioda (skema rangkaian pada bagian 1 artikel ini). Utamakan cari yang berjenis detektor No Voltage.

  3. Tiap-tiap output dari detektor No Voltage tersebut bertemu dalam satu jalur, jalur inilah yang dinamakan jalur proteksi.

  4. Untuk menentukan jenis kondisi normalnya, carilah resistor pull_up (resistor yang dihubungkan menuju ke titik/jalur VCC/tegangan) atau pull_down (resistor yang dihubungkan menuju ke titik/jalur GND) pada jalur proteksi tersebut. Jika ditemukan resistor pull_up pada jalur proteksi tersebut berarti kondisi normalnya berlogika 1 (high, tegangan mendekati VCC, jika drop/turun akan protek) dan sebaliknya jika ditemukan resistor pull_down.

Prosedur Proteksi oleh IC Program


Ketika IC program mendeteksi adanya ketidak normalan pada pin proteknya, IC program segera menjalankan prosedur proteksi yang secara umum langsung mematikan/men-standby perangkat tv (metode mematikan diulas di bagian 1 artikel ini).
Pada beberapa merk, misalnya pada Sharp universe/wonder, prosedur proteksi diawali dengan mematikan/men-standby perangkat TV, kemudian IC program memberikan kode kesalahan berupa kode kedip dengan jumlah kedipan tertentu tergantung jenis proteksinya (baca proteksi dan kode kedip TV sharp).

Tips perbaikan


  • Cari/identifikasi jalur proteksi terlebih dahulu.

  • Cari/Identifikasi jenis logika proteksi (apakah pull_up atau pull_down).

  • Jika sudah ditemukan jalur proteksinya, lumpuhkan proteksi SATU PERSATU, jangan melumpuhkan langsung pada pin/port/pintu-pintu proteksi (misalnya pada sasis sharp wonder/universe dengan melepas jumper 223). Karena jika melumpuhkan pada port/pintu/pin proteksi, lokasi penyebab protek akan sulit ditemukan, dengan kata lain pelumpuhan total. Pelumpuhan total ini hanya efektif untuk ‘melihat’ kerusakan yang tampil dilayar.

  • Sedangkan maksud dari melumpuhkan satu persatu adalah melumpuhkan satu titik proteksi, lalu dicoba dinyalakan, jika masih protek berarti bukan blok tersebut yang rusak, kemudian sambung lagi proteksinya. Langkah ini berlaku untuk semua titik-titik yang disensor.

  • Cara melumpuhkannya dengan melepas hubungan output sensor proteksi (melepas salah satu kaki dioda/zener atau melepas dioda protek).

  • Jika jenis proteksinya merupakan deteksi tegangan, bukan detektor No Voltage, bukan juga deteksi Over Voltage dan tidak ditemukannya resistor pull_up/pull_down, maka untuk melumpuhkannya dengan memberi tambahan resistor pull_up bernilai sekitar 4K7 menuju ke V_STANDBY. Untuk pull_down tinggal kebalikannya (pull/tarik ke GND). Contoh jenis ini adalah polytron/digitec yang menyensor tegangan DC hasil penyearahan vertical out (pump_out).

  • Terakhir, perbaiki satu bagian yang bermasalah tersebut, coba pasang kembali proteksinya dan nyalakan TV.

Pelajaran Berharga


Perbaikan perangkat TV yang sudah dilengkapi dengan proteksi sebenarnya tidak ’seseram’ yang dibayangkan. Dengan adanya proteksi sebenarnya sangat membantu dalam mencari biang kerok kerusakannya, karena pada dasarnya proteksi dipasang hampir pada semua bagian/blok dari perangkat TV. Atau dengan kata lain, tiap-tiap blok sudah terlindungi oleh sistem proteksi, jika ada kerusakan jarang sekali merembet. Sistem proteksi ‘sering’ dijumpai pada TV yang bermerk dan anehnya, TV yang bermerk menjadi ‘arena’ ganti mesin, padahal ‘otaknya’ masih normal.

Semoga bermanfaat, selamat bekerja dan sukses untuk semua.