13 Januari 2011

MEMAHAMI BLOK-BLOK DASAR TV

BLOK 9 CRT DAN YOKE DEFLEKSI

SEKILAS TENTANG CRT
Cathode ray tube (tabung sinar katoda), berprinsip dasar menembakkan elektron menuju anoda (plat yang ada di depan layar). Dibutuhkan besar tegangan yang cukup agar elektron dapat berpindah (tertembakkan). Elektron yang berpindah akhirnya mendarat pada lapisan fluor/phospor pada bagian depan CRT. Fluor/phospor ini akan berpendar/berpijar/menyala bila menangkap elektron dan akhirnya akan timbul bintik/gambar pada bagian lain kaca (depan/bagian sisi pengamat).
Pada TV hitam putih, hanya dibutuhkan 1 set penembak elektron (heater, grid1, grid2, dan katoda/video in). Fluktuasi/perubahan/modulasi tegangan pada grid video ini akan mengatur jumlah/kuantitas elektron yang diperbolehkan untuk menuju ke bagian depan layar. Pada TV warna, terdapat 3 set (R, G dab B) dengan cara kerja masing-masing sama dengan cara kerja pada CRT hitam putih. Secara teknis dan cara kerjanya, CRT cembung dengan flat adalah sama.



  1. Katoda (R, G dan B)
    Elemen/plat katoda merupakan sumber elektron utama. Tegangan pada plat ini diatur oleh transistor output RGB. Semakin tinggi tegangan pada elemen ini, semakin sedikit jumlah elektron yang ditembakkan. 3 buah plat ini masing-masing mengeluarkan elektron R (merah), green (hijau) dan blue (biru).
    Dalam pemrosesan sinyal video oleh IC chroma menghasilkan 3 sinyal warna RGB, sinyal RGB ini kemudian dikuatkan oleh blok penguat RGB untuk menggerakkan plat RGB pada CRT. Besar elektron yang berpindah/tertembak menimbulkan arus katoda. Arus katoda ini disensor dan diproteksi untuk menghindari terjadinya overshoot yang dapat memperpendek umur CRT sekaligus memproteksi kuantitas emisi sinar X yang dikeluarkan oleh CRT.

  2. Anoda (HV)
    Plat katoda merupakan negatifnya CRT dan elektron mengalir dari katoda menuju anoda. Tegangan/beda potensial pada plat anoda harus mencukupi supaya plat katoda mengemisikan elektron menuju ke plat anoda. Tegangan pada plat anoda disupply dari sekunder FBT dengan melalui kabel HV yang oleh para bengkel sering disebut sebagai kop anoda (kabel dari FBT yang terbesar dengan ujung karet silikon).

  3. Heater
    Selain beda potensial yang cukup, plat katoda juga perlu dipanaskan. Tujuan pemanasan ini agar plat katoda dapat menembakkan elektron meski dengan HV yang rendah. Semakin panas heater, semakin mudah bagi elektron untuk berpindah, juga semakin sedikit tegangan HV yang dibutuhkan.

  4. Screen (G2)
    Elektron yang keluar dari plat katoda dikumpulkan bersama-sama dengan elektron dari G1 (ingat, G1 juga negatif). Beda tegangan antara G1 dan G2 (screen) secara praktis dapat mengatur kuantitas elektron yang menuju ke anoda (bagian depan CRT). Semakin tinggi tegangan pada plat G2, semakin besar elektron dari G1 yang akan diteruskan. Perbedaan utama plat G1 dengan plat katoda (RGB) adalah pada tegangannya, bila tegangan RGB besarnya tergantung video, maka tegangan pada G1 adalah tetap (dan dijaga selalu negatif). Begitu juga elektron yang keluar dari G1 juga tetap.

  5. Focus (G3)
    Kuantitas elektron yang keluar dari G1 dan katoda perlu diperuncing, tegangan pada plat G3 mengatur tingkat focus dari elektron yang keluar. Tegangan focus ini bernilai tertentu tergantung kondisi CRT. Plat focus bekerja mirip dengan kaca pembesar (lup) yang mempunyai jarak focus tertentu.


YOKE DEFLEKSI DAN CINCIN PENGATUR KONVERGENSI
Elektron ditembakkan secaran lurus, supaya terbentuk gambar pada layar, elektron tersebut harus dibelokkan secara horisontal dan vertikal. Derajat pembelokannya tergantung dari tipe tabung dan yoke yang digunakan.
Derajat pembelokan yang dibutuhkan mempengaruhi bentuk lilitan dari yoke. Meski sama-sama flat, bentuk lilitan dari bagian yoke horisontalnya mungkin berbeda karena berbeda CRT yang digunakan. Selain bentuk lilitan yang harus disesuaikan, besar induktansi juga harus cocok dengan sistem vertikal-horisontalnya. Pemilihan tipe alternatif harus memperhatikan aspek-aspek tersebut.
Cincin pengatur konvergensi/puritas dipakai untuk menepatkan posisi mendaratnya elektron pada layar karena pembelokan yang dilakukan oleh yoke tidak dapat 100% tepat sasaran. Umumnya terdiri dari 3 bagian masing-masing bagian terdiri dari 2 kutub magnet. Cincin konvergensi terdiri dari 1 set magnet pengatur landing/puritas, 1 set magnet 4 pole/kutub dan 1 set magnet 6 pole/kutub.
Setelan cincin konvergensi yang salah/berubah menyebabkan gambar menjadi berbayang warna biru, merah atau hijau (atau katakan saja RGB tidak menyatu). Setelah penggantian yoke, biasanya setelan cincin ini harus diset ulang.

METODE PEMBENTUKAN/PELUKISAN GAMBAR PADA LAYAR
Metode-metode pembentukan/pelukisan/scanning gambar pada CRT yang sering ditemui adalah interlaced dan progressive. Kedua metode tersebut Penulis ulas secara sederhana sebagai berikut :
Didalam sinyal video composite terdapat sinyal sinkronisasi. Sinyal ini digunakan untuk memandu blok horisontal dan vertikal. Tanpa yoke, hanya akan terbentuk/muncul titik ditengah-tengah layar. Titik ditengah layar anggap saja sebuah pena, dan pena ini digerakkan oleh yoke untuk melukis gambar.
Proses pelukisan gambar dilakukan per-baris (misalnya diawali dari baris teratas), diawali dari baris pertama dari kiri ke kanan, bila rangkaian blok horisontal mendeteksi adanya sinyal sinkronisasi Horisontal Blanking, maka ‘pena’ akan bergerak kembali ke sebelah kiri, dan blok/yoke vertikal akan menggerakkan kebawah satu baris, kemudian horisontal akan melukis lagi dari kiri ke kanan. Proses tersebut berulang-ulang hingga terbentuk satu layar penuh (sebut saja frame yang pertama, 1 frame). Bila blok vertikal mendapatkan sinyal sinkronisasi Vertical Blanking, maka yoke vertikal segera ‘mengembalikan’ ujung pena ke awal pelukisan lagi (ujung baris teratas), kemudian blok horisontal melanjutkan dengan melukis frame yang selanjutnya, begitu seterusnya. Proses scanning/pelukisan frame tersebut harus cukup cepat supaya tidak terlihat seperti gambar diam. Bila TV digunakan untuk menampilkan sinyal video dengan kecepatan frame 25fps, maka dalam satu detik TV akan mencetak gambar sebanyak 25 frame (fps=frame per-second). Atau bila dalam film kartun bergerak dengan kecepatan 25fps, dibutuhkan gambar sebanyak 25 gambar yang berbeda untuk tayangan selama 1 detik.

KERUSAKAN-KERUSAKAN YANG SERING TERJADI
  1. Tidak ada gambar, layar gelap, tegangan HV ada dan suara ada.
    Cek status setelan kontras dan brightness mungkin dalam posisi 0. Cek apakah filamen heater menyala, bila menyala, cek tegangan pada G2. bila tidak menyala, cek resistor heater dan sumber tegangan heater. Bila tegangan G2 tidak ada, cek apakah pin G2 CRT konslet terhadap pin G1. Cek apakah tegangan pada katoda RGB harus dapat mengikuti setelan brightness, bila brightness dinaikkan, tegangan pada katoda RGB akan turun.

  2. Terlihat garis seperti buku (garis retrace terlihat), dengan atau tanpa gambar (blank putih).
    Coba set ulang brightness dan contrass. Cek tegangan G2 yang mungkin terlalu tinggi. Cek apakah tegangan katoda RGB terlalu rendah, bila terlalu rendah, cek tegangan apakah penguat RGB bermasalah. Cek juga bagian sinkronisasi vertikal (v pulse) atau pada beberapa model bisa juga disebabkan vertikal yang tidak bekerja. Bila blanking terdiri satu warna saja, cek apakah salah satu katoda konslet terhadap G1.

  3. Gambar terlalu redup
    Cek tegangan G2, cek tegangan HV, cek apakah blok penguat RGB mampu menurunkan tegangan secara signifikan bila diset pada brightness tertinggi, cek juga jalur ABL. Cek juga soket CRT.

  4. Gambar menjalar/mblobor bila kontras/brightness dinaikkan
    Hal ini disebabkan karena CRT sudah lemah, coba naikkan tegangan heater 1 atau 2 volt, tetapi cara ini semoga tahan lama.

  5. Gambar ada tetapi tertutupi oleh gambar mirip serat-serat kayu secara random
    Cek elko pada jalur tegangan supply katoda RGB.

  6. Gambar tampil lama, tidak focus
    Cek soket CRT, cek tegangan focus dari FBT.

  7. Katoda konslet dengan G1 atau heater
    Bila salah satu katoda konslet/bocor terhadap G1 atau heater menimbulkan kerusakan polos hijau, biru atau merah disertai dengan munculnya garis-garis retrace (seperti screen yang terlalu tinggi). Besar bocoran/hambatan ini dapat diukur dengan ohmmeter. Bila konslet terhadap heater, dapat diakali dengan membuat tegangan supply untuk heater secara tersendiri dengan gnd yang terpisah dari gnd lainnya. Bila konslet terhadap G1, sebaiknya dilakukan penggantian CRT karena biasanya kerusakan konslet dengan G1 terjadi pada CRT yang berumur cukup tua.


TIPS-TIPS
  1. Sebelum membuka kop/kabel anoda dari tabung, CRT harus selalu didischarge (dikosongkan) dulu muatannya dengan mengkonsletkan pin HV CRT terhadap GND CRT (lapisan karbon luar CRT).

  2. Penggantian CRT sebaiknya menggunakan tipe yang sama atau setara.

  3. Ketika memindahkan CRT, jangan menggunakan leher CRT sebagai pegangan.


bersambung, Blok 10 Microcontroller