Penyedia Jasa Servis Elektronik (bengkel elektronik)
"resume forum warung kopi"

Perhatian: Jika Anda tidak berminat untuk berprofesi sebagai bengkel elektronik, silahkan baca untuk nambah pengetahuan, sedangkan bagi yang berminat atau sudah/masih berprofesi sebagai bengkel elektronik, silahkan kasih komentar atau tambahan yang membangun.

"Atas rohmat Allah SWT, saya bisa menulis blog"

Dalam sebuah forum warung kopi, beberapa teman saya (bukan bengkel) berdialog tentang persyaratan untuk menjadi
penyedia servis elektronik (bengkel elektronik)

--saya ambil sampel saja--
Si A adalah lulusan sarjana atau akademisi, sedangkan si B adalah non akademisi (AL) alias Angkatan Labor. Keduanya masih berpacu untuk memiliki pekerjaan tetap dan keduanya juga bertanya/berdialog dengan saya (berprofesi dan masih berprofesi sebagai servis elektronik hingga sekarang).

Si A bertanya: Bagaimana Anda bisa menjadi bengkel elektronik? Kamu dulunya sekolah apa/dimana? Kalau sekolah jurusannya apa? Berapa tahun belajarnya?
Tidak mau ketinggalan, Si B juga bertanya: Otodidak atau harus sekolah? Kalau otodidak, belajarnya sama siapa dan berapa buku yang harus dipelajari? Kalau mau belajar, dimulai dari mana?
Pertandingan adu argumentasi yang menghabiskan beberapa jam tersebut, akhirnya menghasilkan pertanyaan yang paling bikin bingung, praktek dulu baru teori atau teori dulu baru praktek. (bagi yang tahu jawabannya, kasih comment dong)
----------------------------------------------

Bagi rekan-rekan yang bukan berprofesi sebagai bengkel elektronik tentu dapat mengira-ngira jawabannya. Tetapi bagi yang sudah berprofesi sebagai bengkel elektronik (lebih-lebih yang sudah puluhan tahun) mungkin mempunyai jawaban yang lain, atau malah bingung bagaimana menjawabnya.
----------------------------------------------

Dalam sesi forum warung kopi yang berbeda (yang secara kebetulan pesertanya terdiri dari beberapa non bengkel elektronik dan bengkel elektronik--termasuk saya), memperdebatkan argumentasi-argumentasi tentang permasalahan perbedaan anda bengkel elektronik otodidak dan bengkel elektronik kuliahan. Dalam forum tersebut dapat disimpulkan perbedaannya, antara lain:

KULIAHAN: profesi bengkel elektronik mungkin bukan cita-cita sebenarnya (gak ada yang lain kaliiiiii........)
OTODIDAK: profesi untuk meneruskan hobby (hobby sebagai landasan)
KULIAHAN: instan kerjaannya, instan bayarannya.
OTODIDAK: udah dapat bayaran marem masih dapat uang lagi...
KULIAHAN: jurus mautnya adalah ganti mesin boss.......
OTODIDAK: diservis sampe kehabisan stok jurus, baru ganti mesin......
KULIAHAN: malu bertanya sesat dijalan.
OTODIDAK: tanya teruuuuuuus, tapi ikhlas yang jawab.
KULIAHAN: urusan teori, ini ahlinya (tapi instan2 aja ya...)
OTODIDAK: teori....? ntar aja deh, yang penting garapan beres...
KULIAHAN: jarang yang jadi jawara jam karet.
OTODIDAK: jawaranya jam karet.
KULIAHAN: banyak yang hanya bergaul dengan sesama kuliahan.
OTODIDAK: bengkel kuliahan diembat juga.
(dan masih banyak lagi)

---------------------------------------------------------------------------

Menurut saya pribadi,
1. keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jika digabung, hebat dong....
2. bagaimanapun juga dua kepala lebih baik daripada satu kepala, jadi harus rajin cari temen ntuk diajak sharing...

3. sebagian besar bengkel elektronik bermula dari hobbies dan secara otodidak, biasanya seseorang yang belajar secara otodidak adalah pejuang yang ulet, dinamis dan mudah bergaul. Untuk urusan bengkel, kelebihan-kelebihan tersebut merupakan senjata yang powerfull.


Beberapa pernyataan yang menjadi ciri khas "atau setidak-tidaknya diakui oleh" bengkel yang sudah menjadi bengkel sesungguhnya. (ini juga menurut saya lho...)
1. Sekarang paham besok tidak paham, dalam suatu kasus kerusakan, jika seorang bengkel pernah menemui kerusakan yang sama, bengkel tersebut tentu dapat memperbaiki hanya dalam waktu yang singkat. Bagaimana jika kasus kerusakan yang terjadi belum pernah dijumpainya? Apakah boleh dikatakan sebagai bengkel yang "canggih". Dengan pernyataan tersebut, mau tidak mau seorang bengkel harus mengakui bahwa dirinya masih belum bisa (masih goblok gitu....), kesimpulannya, hanya pengalaman/jam terbang yang mampu membedakan "kecanggihan" seorang bengkel.
2. Tidak tega untuk menarik biaya lebih banyak hanya dikarenakan salah sasaran, biasanya, biaya servis membengkak karena banyaknya komponen yang harus diganti, jika misalnya komponen yang diganti bukan merupakan komponen yang rusak? ...berapa jam atau hari yang dibutuhkan untuk memperbaiki?...... mau tidak mau ya hanya dapat bayaran marem....hehehe....trus bayarannya kepotong ntuk ganti ongkos komponen yang nggak rusak......

Sebelumnya terima kasih untuk commentnya.....

-----------------------------------------------------
zaenal (bengkel_elektro, bengkel_microcontroller, bengkel_MCS51, bengkel_software, bengkel_database)
100% otodidak, tahun 2009 masih berstatus mahasiswa jurusan TIK